Kedelai... Pasti semua tahu kedelai kan... Itu loh bahan dasar pembuatan tahu & tempe, makanannya yang sering kita jumpai dimanapun di negeri kita tercinta Indonesia ini. Kedelai itu mempunyai nutrisi yang tinggi dan sebagai sumber protein nabati yang bermutu tinggi. Berikut akan saya tuliskan beberapa mitos tentang kedelai. Yuk mari disimak...
Mitos #1 : Makin banyak konsumsi kedelai dan olahannya, makin sehat?
Faktanya : Kedelai dan olahannya memang makanan yang bernutrisi tinggi. Sayangnya, banyak anggapan yang salah tentang kedelai dan olahannya ini. Banyak yang beranggapan bahwa dengan makan sedikit saja sudah bikin tubuh sehat apalagi makan banyak. Padahal yang bener itu makanlah dengan porsi yang ideal agar mendapatkan nutrisi yang optimal. Tempe, tahu dan susu kedelai merupakan sumber protein alternatif yang sangat baik sebagai pengganti daging. Dua hingga empat porsi seminggu adalah target yang baik. Makan lebih dari itu tidak akan memberikan manfaat yang baik bagi kesehatan.
Mitos #2 : Kedelai Untuk Kesuburan Pria
Faktanya : kedelai dan olahannya, seperti susu kedelai, mengandung isoflovan yang bertindak mirip dengan hormon esterogen dan dapat menimbulkan efek negatif untuk kesuburan pria. Memang, ada beberapa indikasi bahwa fitoesterogen dapat mengubah hormon reproduksi, spermatogenesis(asal mula dan perkembangan sel reproduksi pria dewasa), kapasitas sperma dan kesuburan. Namun, hasil penelitian Jorge E. Chavarro, MD, ScD, dari Departemen Ilmu Gizi Harvard School of Public Health, pada tahun 2008, mengungkapkan bahwa asupan makanan produk kedelai dan sumber isoflovan, termasuk susu kedelai, tidak berhubungan dengan motilitas sperma, morfologi sperma, atau volume ejakulasi. Namun, konsentrasi sperma yang rendah bisa berkaitan dengan pria yang terlalu banyak mengonsumsi kedelai dan olahannya.
Mitos#3 : Susu Kedelai Pengganti ASI?
Faktanya: Sebenarnya, jika dibandingkan dengan susu sapi, susu kedelai belum tentu lebih baik sebagai pengganti ASI. Sebab, nilai cerna susu sapi sebesar 90% - 95%, sedangkan susu kedelai hanya 80%. Jadi, jika bayi usia 0 - 12 bulan tidak lactosa intolerant, lebih baik diberikan susu sapi daripada susu kedelai, karena nilai cerna susu sapi lebih tinggi sehingga lebih mudah dicerna lambung bayi. Susu kedelai bisa diberikan pada bayi yang tidak mendapat ASI dan alergi susu sapi.
Nah, itulah beberapa mitos dan fakta tentang kedelai yang mungkin selama ini kita telah salah menilai. Semoga bermanfaat...
No comments:
Post a Comment