Guru memang mempunyai arti digugu dan ditiru... Tapi guru itu juga seorang manusia yang bisa berbuat khilaf dan juga mempunyai batas kesabaran. Apakah di Zaman serba canggih ini seorang guru tidak boleh memarahi muridnya apabila muridnya melakukan kesalahan bahkan sampai melecehkannya. Miris rasanya hati ini mendengar kabar bahwa sang guru dilaporkan ke kepolisian hanya karena sang guru melakukan kekerasan fisik terhadap anak muridnya yang sudah melecehkannya.
Mungkin kalau saya yang menjadi orangtua dari si anak ini, saya akan mencari tahu terlebih dahulu cerita dari sang gurunya. Bisa jadi karena si anak membenci gurunya maka dia melebih lebihkan ceritanya. Tapi...kalau saya jadi gurunya, saya akan menginstropeksi diri saya dulu sebelum saya melakukan tindak kekerasan itu. Karena saya lebih suka menghukum murid dengan tindakan seperti menyuruhnya keluar kelas untuk tidak mengikuti pelajaran saya atau menyuruh si anak menemui guru BP.
Sebaik apapun guru kalau dya sudah merasa sangat dilecehkan oleh anak muridnya pasti akan sangat marah dan tersinggung. Sama seperti halnya seorang ibu kalau sudah dilecehkan oleh anaknya sendiri pasti akan sangat marah dan tersinggung.
Jadi, untuk seluruh siswa dimanapun kalian berada tolong anggaplah guru itu sebagai pengganti orangtua kalian ketika kalian di sekolah. Jaga perasaan guru seperti kalian menjaga perasaan orangtua kalian.
Dan untuk para guru yang saya hormati, hendaknya kita bisa lebih bijaksana lagi di Zaman yang serba canggih ini. Mungkin di Zaman kita dulu sekolah ketika guru marah dengan melakukan tindakan kekerasan, kita & orangtua kita masih menganggapnya wajar. Karena tindakan yang dilakukan itu atas dasar karena guru kita itu menyayangi kita dan juga karena para orangtua kita dulu sangat mempercayakan pendidikan dan pengasuhan anaknya sepenuhnya kepada gurunya ketika berada di lingkungan sekolah serta bekerjasama dengan baik dalam menyelesaikan masalah ketika si anak mempunyai masalah di sekolah.
No comments:
Post a Comment